Minggu, 07 Oktober 2012

Lapisan Keamanan VBV Ditambahkan pada Visa

Jakarta (ANTARA)- Perusahaan kartu kredit Visa Indonesia menyediakan
lapisan keamanan tambahan yaitu Verified by Visa (VbV) bagi pemegang
kartu ketika akan melakukan transaksi online.

"Layanan ini diciptakan untuk membantu meningkatkan pembelanjaan
online dan membantu klien dalam menyediakan mekanisme pembayaran
online yang aman, cepat dan nyaman," kata Direktur Utama PT Visa
Worldwide Indonesia, Ellyana Fuad, dalam keterangan persnya yang
diterima di Jakarta, Minggu.

Ellyana Fuad menyatakan VbV merupakan metode autentikasi pemegang
kartu melalui sebuah kata sandi untuk transaksi online.

Metode itu akan meminta pemegang kartu untuk memasukkan kata sandi
pribadi ketika melakukan pembayaran dengan kartu Visa mereka secara
online, sama halnya seperti saat mereka memberikan PIN atau tanda
tangan ketika berbelanja, katanya.

Ia menambahkan, layanan yang mudah digunakan tersebut akan
memverifikasi identitas pemegang kartu kepada "merchant" dan
meyakinkan pemegang kartu bahwa data mereka diproses secara aman.

Setiap pemegang kartu diminta untuk mendaftarkan layanan VbV ke bank
penerbit kartu Visa mereka, ucapnya.

Ellyana Fuad mengatakan VbV sangat penting untuk meningkatkan
kesadaran konsumen akan keamanan dalam transaksi online.

"Dengan menyediakan jaminan keamanan yang terbaik akan menciptakan
rasa aman dan damai bagi konsumen serta memberikan kepercayaan dalam
proses jual beli online," jelasnya.

Menurut dia, VbV diciptakan berkat berkembangnya eCommerce di
Indonesia, yang membutuhkan produk dan jasa secara online.

Selain itu, lebih dari 50 persen populasi Indonesia yang berusia di
bawah 45 tahun saat ini sangat peduli terhadap hal tersebut, ucapnya.

Data ICT (Information & Communication Technology), pada 2011
menyatakan, masyarakat Indonesia yang mengakses ke Internet sebanyak
72 juta orang atau lebih dari 30 persen masyarakat.

Ellyana mengatakan Indonesia saat ini merupakan negara peringkat
ke-empat dunia sebagai pengguna Facebook terbanyak setelah Amerika
Serikat, Brazil, dan India.

Lebih dari 47 juta pengguna Facebook di dalam negeri itu merupakan
faktor makin berkembangnya ecommerce, ujarnya.

Survei Visa terbaru, pada 2011 menyebutkan orang Indonesia rata-rata
membelanjakan uangnya sebesar Rp4.850.000 (454 dolar AS) untuk
berbelanja hadiah Natal secara online atau sekitar 25 persen lebih
banyak dibanding 2010.

Masyarakat yang berusia 35-55 tahun dan pasangan yang telah menikah
dan memiliki anak bahkan menghabiskan lebih dari Rp5.320.000 (600
dolar), tuturnya.

Menurut dia, masyarakat Indonesia menggemari kenyamanan dan keuntungan
berbelanja online.

Visa`s Ecommerce Consumer Monitor menunjukkan bahwa delapan dari 10
orang Indonesia yang gemar belanja online sangat memperhatikan faktor
keamanan transaksi online mereka.

Keamanan pembayaran merupakan faktor terpenting dalam transaksi
online, tuturnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar